Tangerang. DUASISINEWS. Di sudut Perumahan Dasana Indah RW 17, Masjid Al-Ikhlas tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat harapan bagi masyarakat. Melalui pengelolaan zakat yang terorganisir, masjid ini menjadi titik awal perubahan bagi banyak warga yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan.
Komisioner BAZNAS Kabupaten Tangerang, Andi Irawan, menyebut zakat sebagai kekuatan sosial yang sering kali tidak terlihat dampaknya secara langsung.
“Kebahagiaan orang yang berzakat dan yang menerima itu nyata, meskipun tidak selalu dalam bentuk materi,” ujarnya.
Dikelola dari Lingkungan, Berdampak ke Kehidupan.
Di bawah kepemimpinan Rudie Kurniawan, UPZ Masjid Al-Ikhlas mengelola zakat dengan pendekatan berbeda—tidak hanya memberi, tetapi membangun.
Bantuan tidak langsung diberikan begitu saja, tetapi melalui proses survei, penilaian, hingga pendampingan.
“Kami ingin mustahik tidak selamanya menerima, tapi bisa bangkit dan mandiri,” katanya.
Cerita Perubahan dari Bantuan Kecil
Dari bantuan sederhana seperti gerobak usaha, muncul harapan baru.
Seorang warga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan, kini mampu menjalankan usaha kuliner. Bahkan, usahanya telah mendapatkan sertifikasi halal dan mulai berkembang.
Ini menjadi bukti bahwa zakat bisa menjadi “modal awal kehidupan baru”.
Gotong Royong Sosial yang Nyata
Ketua LPMK, Abdullah Bawazir, melihat gerakan ini sebagai bentuk nyata gotong royong modern.
“Kalau semua masjid melakukan hal yang sama, keberkahan akan terasa di seluruh wilayah,” ujarnya.
Zakat sebagai Jalan Perubahan
Zakat di Masjid Al-Ikhlas tidak lagi sekadar kewajiban tahunan, tetapi menjadi sistem sosial yang hidup, menghubungkan yang mampu dengan yang membutuhkan.
Di sinilah zakat menemukan makna sejatinya: bukan hanya memberi, tetapi mengubah.
Reporter : S Yacob


