Walikota Menjawab - Rakyat Mengkritisi : Pajak Kota Tangerang, Antara Pencitraan, Kesadaran Atau Paksaan ?


Tangerang. DUASISINEWS. Walikota Tangerang, H. Sachrudin, menegaskan bahwa pemerintah daerah menyadari masih adanya keraguan masyarakat dalam membayar pajak. Oleh karena itu, Pemkot Tangerang berkomitmen menjadikan pengelolaan pajak lebih akuntabel dan hasilnya benar-benar dirasakan warga.


“Kepercayaan masyarakat adalah kunci. Pajak tidak boleh hanya berhenti sebagai angka di laporan keuangan, tetapi harus kembali ke masyarakat dalam bentuk pelayanan publik yang lebih baik dan pembangunan yang nyata,” tegas Sachrudin, Kamis (01/01/2026) dikutip dari Pantura.Com


Menanggapi ketegasan Walikota Tangerang tersebut, Ketua Media Citra Indonesia ( MCI ), Asep Wawan Wibawan, yang  beberapa waktu terakhir ini sangat tajam mengkritisi Pajak Kota Tangerang,  mengungkapkan rasa syukurnya karena Walikota  Tangerang menjawab Keraguan Masyarakat dalam membayar pajak. Namun  Ia kembali mengkritisi dan menyebutkan bahwa jawaban Walikota tersebut merupakan bagian pencitraan diruang publik.


"  Alhamdulillah , melalui Media Online Walikota Tangerang bijak menjawab keraguan masyarakat dalam membayar pajak, namun menurut saya itu adalah salah satu bagian pencitraan untuk mendorong kepercayaan masyarakat dalam membayar pajak. Hal itu sangat wajar dan   perlu dilakukan dalam  sebuah proses pembangunan. Tapi yang  paling penting adalah harus sesuai realita jangan hanya sekedar pencitraan durung publik " Kata  Asep,  Saat  dihubungi melalui WhatsApp pada Kamis (1/1/2026)


Menurut Asep , Pengelolaan hasil pajak masyarakat  Kota Tangerang  dirasakan kurang berkeadilan . Pemerintah  Daerah Kota Tangerang Cenderung lebih  memperhatikan dan  bangga dengan pembangunan infrastruktur, Sementara sektor penting lainnya kurang mendapatkan sentuhan.


"  Sepertinya Pemerintah Daerah Kota Tangerang, lebih cenderung memperhatikan pembangunan infrastruktur, sementara sektor - sektor yang lebih penting lainnya terkesan kurang mendapatkan sentuhan. Buat apa bangga dengan pembangunan  infrastruktur , bila kesenjangan dan kecemburuan sosial  masyarakat semakin meningkat ", ujar Asep.


" Buat apa bangga dengan pembangunan infrastruktur bila masih banyak terdengar keluh kesah masyarakat yang menjerit dan menangis terhimpit  beban  kehidupan yang cukup berat. Buat apa bangga dengan tingginya  Pendapatan Asli  Daerah, bila  cenderung lebih banyak  dinikmati oleh konglomerat dan para pejabat. Buat apa bangga dengan tingginya hasil Pendataan Asli Daerah, bila keseimbangan kualitas pendidikan kurang diperhatikan ", kata Asep.


Asep menambahkan,  kesadaran masyarakat Kota Tangerang membayar pajak Cukup tinggi . Namun bila  diperhatikan , sepertinya ada bahkan mungkin cukup banyak masyarakat yang  belum bisa membayar pajak , karena  dihadapkan dengan beban  ekonomi yang cukup berat  alias besar pasak daripada tiang. Seperti yang dialami keluarga besar istri saya yang sampai Saat in memiliki.tunggakan PBB yang nilainya cukup besar. Bukan berarti enggan membayar pajak kondisi ekonominya besar pasak daripada tiang. Jangan untuk bayar PBB  untuk  biaya hidup sehari-hari juga bingung. 


" Mungkin juga tidak sedikit masyarakat yang terpaksa bayar pajak karena kawatir mendapatkan  sanksi administrasi .   Bayar pajak menjadi keterpaksaan bukan kebutuhan  atau  karena untuk keperluan lain yang sangat penting dan mendesak ",  tambah Asep.


Tidak hanya itu , Asep yang juga sebagai seorang jurnalis menyampaikan kekecewaannya terhadap sikap beberapa OPD Kota Tangerang yang dirasakannya kurang kooperatif  bahkan  terkesan enggan berkomunikasi dengan awak media.


" Beberapa  pimpinan  OPD Kota Tangerang yang sudah  sangat jelas tunjangan dan gaji nya di tanggung  dari  hasil pajak masyarakat,  masih ada yang  kurang memberikan pelayanan yang kurang baik kepada masyarakat, itu  dirasakan oleh saya sendiri, sebagai awak media . Saya pernah mencoba konfirmasi atau komunikasi dengan beberapa OPD Kota Tangerang, namun mereka tidak merespon bahkan ada diantara mereka yang memblokir Nomor WhatsApp saya, apa itu yang disebut memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat ? Kepada awak media  yang terbukti  update saja seperti  itu, apalagi kepada masyarakat ", ketus Asep dengan nada kecewa.


Lebih lanjut, Asep  menyampaikan rencananya membuat buku dengan  judul    "  Pajak Kota Tangerang  Antara Pencitraan , Kesadaran  Dan Paksaan  " menceritakan  tentang  pengelolaan pajak  kota Tangerang yang dinilai  kurang objektif dan kurang berkeadilan . Buku tersebut akan diperbanyak dan dibagikan kepada para Wakil Rakyat Kota Tangerang menjelang HUT Kota Tangerang pada Februari mendatang. 


" InsyaAllah, saya akan   membuat buku dengan judul " Pajak Kota Tangerang, Antara Pencitraan, Kesadaran Dan Paksaan. Isinya adalah  rangkuman artikel - artikel atau  opini yang pernah saya buat dan pernah  ditayangkan di beberapa media Online  terkait  proses pembangunan  Kota yang dirasakan kurang objektif  atau kurang Berkeadilan. InsyaAllah akan diperbanyak dan diberikan kepada seluruh Wakil Rakyat Kota Tangerang,  dengan harapan bisa dijadikan sebagai salah satu bahan evaluasi pembangunan Kota Tangerang. Ditindaklanjuti atau tidaknya, itu urusan nomor 12, yang penting  sebagai warga Kota Tangerang,  saya telah memanfaatkan hak  mengkritisi sekaligus  menyampaikan keluhan  terkait proses pembangunan yang dirasakan  berjalan kurang Objektif  atau kurang Berkeadilan dan saya yakin,  apa yang saya lakukan  mewakili masyarakat Kota Tangerang yang  sependapat  dan merasakan  hal yang sama dalam proses pembangunan Kota Tangerang ", pungkas Asep Wawan Wibawan.


( Red )